Sabtu, 23 Juni 2018

Sutarmidji, Cagub Kalimantan Barat yang Pernah Mengkritik Ahok

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar, Sutarmidji (kiri) dan Ria Norsan (kanan) berjabat tangan saat mengantarkan berkas pendaftaran di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kalbar di Pontianak, 8 Januari 2018. ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang

    Bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar, Sutarmidji (kiri) dan Ria Norsan (kanan) berjabat tangan saat mengantarkan berkas pendaftaran di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kalbar di Pontianak, 8 Januari 2018. ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang

    TEMPO.CO, Pontianak - Rumah Sutarmidji di sudut Gang Waris, Jalan Tebu, Pontianak, Kalimantan Barat, mayoritas berbahan kayu belian dengan halaman yang luas. Kayu belian dikenal juga dengan sebutan kayu besi atau ulin. Jenis kayu kelas satu yang tahan, dan harganya pun mahal. Rumahnya hanya di cat pelindung kayu, mempertahankan warna aslinya yang hitam pekat.

    Matahari belum tinggi, tapi di teras rumah sudah tampak beberapa orang tamu. Duduk berjejer di kursi besi yang disediakan. Rumah kayu ini ternyata kerap dijadikan tempat pertemuan. Ruangan induk, ternyata terletak di gang utama. Baru terlihat rumah ini berbentuk L. Di ruangan induk, dingin AC langsung menerpa kulit. Ruang tamu terdiri dari susunan kursi jati, disusun berjejer memenuhi ruangan. Tuan rumah tampak kerap menerima tamu dalam jumlah banyak.

    “Bapak sudah siap,” kata Ncus Sobari. Dia adalah tim kampanye media Sutarmidji. Pria 56 tahun ini adalah mantan Wali Kota Pontianak yang kini maju dalam pemilihan kepala daerah Kalimantan Barat. Lismaryani, istri Sutarmidji keluar dari kamar. Tangannya memegang piring berisi jajanan pasar. Sejurus kemudian, Sutarmidji keluar. Duduk kursi jati bagian tengah. Dia berkisah, baru saja pulang dari safari kampanye ke daerah.

    Walau lelah, konsekuensi ini telah sepenuhnya disadari Midji, panggilannya sejak kecil. Dunia politik sudah mendarah daging di keluarganya. Ayahnya aktif di Partai Masyumi. Keluarga besar ayahnya bahkan kader PDI dan Golkar. “Tapi, tamat SMA tahun 1981 saya memilih masuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP),” katanya.

    Pada 1997, Midji berhasil menjadi anggota DPRD Kota Pontianak, sekaligus pegawai negeri sipil. “Waktu itu hampir tidak ada PNS yang bisa jadi anggota Parpol. Kemudian karena reformasi, hanya menjabat selama dua tahun. Terpilih lagi di tahun 1999,” katanya.

    Pada 2003, Midji dipinang untuk mendampingi Buchary A Rachman, untuk maju menjadi pasangan wali kota dan wakil wali kota Pontianak.  

    Pada 2008, saat pemilihan langsung pertama Midji maju sebagai calon wali kota, dan terpilih bersama pasangannya, Paryadi. Periode selanjutnya, Midji berpasangan dengan Edi Rusdi Kamtono pun berhasil  memenangkan Pilkada, dan menjadi orang pertama di Kota Khatulistiwa untuk periode kedua.

    Midji sejak muda sudah berani bersikap. Jika dulu, PNS harus bergabung dengan Golkar, Midji tetap memilih PPP. Tentu tak mudah, untuk hal ini Midji punya kenangan.

    “Saat harus mengantongi izin dari Menteri, Pak Wardiman, izin keluar paling terakhir. Sehingga SKCK (dulu surat kelakuan baik, red) harus dibuat jam sebelas malam,” kisahnya. Hampir saja dia dicoret dari pendaftaran anggota. Namun nasib memihaknya. Midji bersyukur akan hal ini. Di Kalbar, mungkin dia yang pertama.

    Sutarmidji resmi didukung empat partai dalam pencalonannya sebagai Gubernur Kalbar 2018 mendatang. Dia berhasil mengumpulkan 18 kursi; Golkar 9 kursi, Nasdem 5 Kursi, PKB 2 kursi dan PKS 2 kursi. Maju sebagai kandidat Gubernur Kalbar, Midji berpasangan dengan Ria Norsan, mantan Bupati Mempawah. Norsan adalah pentolan Partai Golkar.

    Terjun ke dunia politik, anak ke enam dari sembilan bersaudara ini, punya pesan buat istri dan keluarganya. “Kalau mau baca berita, harus kuat mental. Kalau kuat silahkan baca. Kalau tidak, mending jangan,” ujarnya.

    Keluarganya pun menurut. Dia sendiri tak ambil pusing apa yang ditulis media. Klarifikasi pun diberikan jika memang diperlukan. “Saya yang paling tahu kan, kadang yang ditulis di media salah fatal pun saya biarkan. Saya tidak ingin menjatuhkan kredibilitas wartawan dan medianya. Biar saja,” katanya.

    Salah satu kontroversi yang menerpanya adalah kebijakan Pemerintah Kota Pontianak menjadikan SD Negeri 01 Pontianak sebagai lahan parkir untuk hotel. Sebagian warga memprotes. DPRD Kota Pontianak pun sempat memanggilnya.

    Selain itu, pada 2015, Sutarmidji jadi sorotan media nasional lantaran kritiknya terhadap Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Lewat akun Twitter-nya, Midji mengkritik pengelolaan anggaran Ahok.

    Kehidupan pribadi Midji sebenarnya jarang tersorot media. Anak dan istrinya bukan tipe media darling. “Saya memang tidak sering menemani anak-anak ke mall, tapi di rumah saya total buat anak-anak,” ujarnya.

    Pernikahannya dengan Lismaryani 24 tahun silam melahirkan tiga buah hati; Dytha Damayanti Pratiwi, Ayu Dwi Putri Sulistia dan  Muhammad Bayu, yang masih duduk di bangku SMP. Anak sulung dan tengah telah menyelesaikan pendidikan strata satu.

    Anak pertamanya Dytha telah menyelesaikan bangku kuliah S1, sedangkan anak keduanya tengah duduk dibangku kuliah dan anak bungsunya M. Bayu saat ini masih duduk di bangku SMP. “Anak saya yang bungsu, waktu SD selalu saya mandikan. Sekarang, tiap sekolah dia selalu datang ke kamar minta doakan. Biar saya masih di kamar mandi, dia akan tunggu,” katanya. Ada nada bangga di sana.

    Selama kepemimpinannya, Midji menekankan pada pelayanan publik dan transparansi anggaran. Terobosan di bidang pelayanan bahkan membuahkan berbagai penghargaan. Demi mempercepat pelayanan, Sutarmidji menerapkan pelayanan satu atap dalam mengurus perizinan. Jumlah perizinan pun dipangkas dari yang sebelumnya 99 jenis izin hingga menjadi hanya 14 jenis perizinan. “Perizinan tercepat di Pontianak. Perumahan itu paling cepat 14 hari, Pontianak satu jam saja,” katanya.

    Ini yang akan dibawa dalam programnya sebagai gubernur Kalbar. Pemerintah harus cepat menjawab kebutuhan masyarakat. Transparansi juga dikedepankan dengan mempublikasikan APBD Kota Pontianak serta penggunaan dana Bantuan Sosial. “Saya pastikan kepada aparat penegak hukum, kalau Bansos bermasalah jangan periksa staff saya. Periksa saya, karena saya yang tandatangani dan tentukan besarannya,” ujarnya.

    Maka, Midji memastikan stafnya kerja dengan nyaman dan tenang. Tapi kalau hibah, yang bertanggungjawab adalah penerima hibah. Pasalnya hibah sudah tercantum dalam anggaran. Lain halnya dengan Bansos. Dananya gelondongan. Dia ambil contoh, warga yang terkena musibah kebakaran, maka diberikan bantuan senilai rumah layak huni, sekitar Rp15 juta. Pengumuman penerima Bansos pun dilakukan di media massa dan website resmi pemerintahan.

    “APBD juga dibedah terbuka. Melibatkan beberapa lembaga swadaya masyarakat dan Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura, sebagai pelaksana,” katanya. Sejak tahun 2011, Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Kota Pontianak selalu mendapat predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK. Pada tahun 2015, Kota Pontianak dianugerahi predikat pelayanan publik terbaik se-Indonesia oleh ORI.

    Di bidang kesehatan, Midji menerapkan sistem rumah sakit tanpa kelas, di RSUD Kota Pontianak. Dia juga berniat memberlakukan hal sama di RSUD Dr Soedarso, yang dikelola pemerintah provinsi, jika terpilh sebagai gubernur. Rumah sakit ini melayani pengguna BPJS, dan layanan tergantung penyakit yang diderita.

    “Rumah Sakit Kota Pontianak melayani 95 persen BPJS. Bisa saja orang yang kelas 3, tetapi menempati ruangan sendiri. Karena jenis penyakitnya mengharuskan dia sendiri,” katanya. Dari 95 persen pengguna BPJS yang dilayani BPJS, 70 persennya adalah warga dari Kabupaten Kubu Raya, yang belum punya rumah sakit. Hal ini menyebabkan, Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) Kota Pontianak meningkat pesat dari peringkat 125 di 2013 menjadi peringkat 43 pada 2013 dan peringkat 22 pada 2014. “Kocaknya, dokter dan perawat tak hanya melayani urusan pasien. Tapi juga mendamaikan pasien. Soalnya banyak yang bertengkar gara-gara satu tak mau pakai AC, satu mau,” ujarnya.

    Pelihara Hewan

    Midji sangat melek teknologi. Dia bahkan membuat inovasi untuk sistem informasi untuk harga sembako dan harga sayur mayur. Taman-taman dengan perpustakaan dan perpustakaan digital, serta aplikasi laporan berbasis aplikasi. Tahun 2018 ini, dia mendukung SPBU-SPBU di Kota Pontianak menggunakan e money. Transaksi cashless juga diujicoba di pasar-pasar tradisional.

    Dia memelihara ikan di kolam. Memberi makan ikan menjadi keasyikan tersendiri. Seekor angsa bernama Boy, sudah menjadi peliharaannya sejak 17 tahun yang lalu. “Namanya si Boy. Si Boy ini kita kasih betina dua ekor. Betinanya ganti-ganti, karena sempat mati kena penyakit. Si Boy agak garang, tapi kalau saya panggil, selalu datang,” ujarnya.

    Baru terlihat gurat senyum membingkai wajahnya. Wajah Midji memang kerap serius. Tapi, beberapa orang di sekitarnya mengatakan dia suka bercanda. Dalam bahasa melayu membercandai orang lain, disebut juga dengan ‘menyakat’. Agaknya, menghilangkan ketegangan dengan ‘menyakat’ adalah salah satu resep Sutarmidji.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Pelatih Paling Mahal di Piala Dunia 2018

    Ini perkiraan jumlah gaji tahunan para pelatih tim yang lolos Piala Dunia 2018.