Kubu Rano-Embay Perkarakan Ketua KPU karena Pegang Roti Ini

Jum'at, 17 Februari 2017 | 19:45 WIB
Kubu Rano-Embay Perkarakan Ketua KPU karena Pegang Roti Ini
Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Banten nomor urut satu Wahidin Halim (kiri) dan Andika Hazrumy (kedua kanan) berjabat tangan dengan cagub nomor urut dua Rano Karno (kedua kiri) dan Embay Mulya Syarief usai mengakhiri sesi debat publik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Banten di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, 29 Januarta 2017. ANTARA/Wahyu Putro A

TEMPO.CO, Tangerang -- Gugatan menggugat dalam kasus Pilkada Serentak 2017 mulai muncul. Salah satunya ditempuh tim hukum pasangan calon gubernur Banten, Rano Karno-Embay Mulya Syarief. Mereka melaporkan Sanusi, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Tangerang, Sanusi  ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).



Dalih laporan tersebut adalah terkait dengan dugaan keberpihakan Sanusi kepada pasangan calon nomor urut, Wahidin Halim-Andika Hazrumy. Menurut Sierra Prayuna, tim kuasa hukum Rano-Embay, Sanusi terlihat dalam akun facebooknya dangan gambar memegang roti bergambar Wahidin.

Baca: Wahidin Vs Rano Selisih Tipis, Polisi Perkuat Keamanan

"Apakah ini etis? Ketua KPU mengarahkan pemilih untuk memilih pasangan calon tertentu.Ini buktinya bisa dibuka di Facebook," kata Sierra sambil menunjukan gambar dalam ponsel saat jumpa pers Jumat 17 Februari 2017 di posko pemenangan Rano-Embay di Modern Land Kota Tangerang.



Dihubungi terpisah, Sanusi mengatakan memiliki tiga akun facebook, diantara ketiganya yang aktif hingga saat ini bernama sanusi page. Mengenai gambar Sanusi memegang roti bergambar WH itu, Sanusi mengakui itu merupakan gambar yang diambil pada 2011 silam.

Baca: Wahidin Vs Rano Saling Klaim Menang, KPU: Ada Hitungan Manual



"Waktu 2011 dulu saat saya masih di lapangan (wartawan) ada laporan ke Panwas Kota Tangerang soal temuan roti Wahidin, tapi kemudian ditulisi apa saya tidak tahu kalau kemudian dimafaatkan," kata Sanusi.  

AYUCIPTA

Komentar

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Terpopuler