Senin, 24 September 2018

Kisah KH Mustofa Bisri atas Puisinya yang Jadi Kontroversi

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyair yang juga pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh Rembang, Jateng, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) bersama aktor Slamet Rahardjo membacakan puisi saat acara 'Doa untuk Palestina' di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, 24 Agustus 2017. Acara yang digagas dalam rangka solidaritas untuk rakyat Palestina. ANTARA FOTO

    Penyair yang juga pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh Rembang, Jateng, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) bersama aktor Slamet Rahardjo membacakan puisi saat acara 'Doa untuk Palestina' di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, 24 Agustus 2017. Acara yang digagas dalam rangka solidaritas untuk rakyat Palestina. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Semarang - Kiai Haji Mustofa Bisri atau Gus Mus mengaku prihatin atas kontroversi puisi karyanya yang dibacakan calon gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Hal itu diungkapkan Gus Mus kepada calon wakil gubernur pasangan Ganjar, Taj Yasin.

    Kepada Taj Yasin, Gus Mus menceritakan awal mula puisi itu dibuat puluhan tahun lalu. Karena itu, Gus Mus merasa prihatin puisi yang sudah berusia 30 tahun itu belakangan dipermasalahkan sebagian orang.

    "Tadi Gus Mus bercerita puisi itu adalah hasil diskusinya dengan almarhum KH Thoyfur. Puisi itu karangan beliau 30 beliau tahun lalu, waktu itu masih jadi anggota DPRD Provinsi Jateng bersama almarhum Kiai Toyfur," kata Taj Yasin seusai melepas keberangkatan Gus Mus untuk umroh di Bandara Ahmad Yani, Semarang, Rabu, 11 April 2018.

    Baca: Dukung Ganjar Pranowo, Ratusan Orang Baca Puisi Karya Gus Mus

    Puisi berjudul Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana itu diciptakan Gus Mus dari hasil ngobrol dengan Kyai Toyfur. "Kata Kyai Toyfur 'Gus catat saja, bikin aja terus jadi puisi," kata Yasin menirukan ucapan Gus Mus kepadanya.

    Puisi Gus Mus tersebut belakangan menjadi kontroversi setelah dibacakan Ganjar Pranowo di salah satu stasiun televisi pada akhir Maret lalu. Beberapa pihak yang menyangka puisi itu sebagai karya Ganjar menuding puisi tersebut menista agama.

    Yasin megatakan, selama ini Gus Mus belum bicara secara langsung kepada media terkait kontroversi puisinya tersebut. Dia mengatakan, menurut Gus Mus, konteks puisi tersebut menggambarkan masyarakat Indonesia yang tertindas oleh rezim Orde Baru. "Puisi tersebut sangat populer pada masanya di kalangan mahasiswa dan aktivis," kata Yasin.

    Baca: Kalangan Advokat akan Laporkan Ganjar Pranowo ke Polisi

    Konteks puisi itu menggambarkan kondisi masyarakat yang tertindas karena situasi politik saat itu. "Jadi itu ungkapan dan puisi itu menjadi puisi wajib ketika masyarakat bersama gerakan lembaga swadaya masyarakat dan mahasiswa untuk demo," ujar Yasin yang merupakan Politikus PPP.

    Kepada Yasin, KH Mustofa Bisri menyesalkan adanya penafsiran keliru yang berujung kontroversi. Namun, Gus Mus juga senang banyak masyarakat yang merespons dan membela puisinya. Hal itu misalnya terjadi di posko pemenangan Ganjar-Yasin di Semarang yang secara bergantian membacakan puisi Gus Mus, pada Selasa malam, 10 April 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kampanye Imunisasi MR Fase 2 Luar Jawa Masih di Bawah Target

    Pelaksanaan kampanye imunisasi MR fase 2 menargetkan hampir 32 juta anak usia 9 bulan hingga 15 tahun di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Hingga 10 Sep