Putaran 2 Pilkada DKI, Demokrat Bebaskan Kadernya Memilih

Jum'at, 17 Februari 2017 | 19:19 WIB
Putaran 2 Pilkada DKI, Demokrat Bebaskan Kadernya Memilih
Wakil Ketua MPR, E.E Mangindaan berbincang dengan Kepala Kanwil Ditjen Pajak Jakarta Timur, Harta Indra Tarigan saat menyerahkan berkas e-filling di Hotel Novotel, Bogor, 30 Maret 2016. Dalam kesempatan ini Mangindaan juga menyatakan bahwa ia mengajak seluruh jajaran pimpinan dan pegawai MPR untuk memanfaatkan fasilitas e-filling ini. TEMPO/Lazyra Amadea Hidayat

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat , E.E. Mangindaan, mengatakan partainya belum memutuskan untuk memberikan dukungan kepada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI pada pilkada putaran kedua. Menurut Mangindaan, yang terpenting saat ini kubu Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni (Agus-Sylvi) mengakui kekalahan.

"Soal suara mau ke mana itu saya kira belum ada keputusan dan tidak perlu dirisaukan. Karena itu orang akan lihat lebih banyak melihat kepada figur," kata Mangindaan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat 17 Februari 2017.

Baca: Sehari Setelah Pemungutan Suara, Ini Kegiatan Ahok  

Menurut Mangindaan, lebih baik partainya membebaskan seluruh kadernya untuk memilih. "Menurut saya dibebaskan saja, kemampuan masing-masing pribadi menilai siapa yang pas," kata dia. Namun, ia menegaskan belum ada keputusan untuk memberikan pasangan lain.

Pencalonan Agus - Sylvi diusung Demokrat, PKB, PAN, dan PPP, kandas pada putaran pertama. Pasangan ini  berada posisi terbawah hingga hitung cepat beberapa lembaga survei dan real count Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta.

Pada putaran kedua, suara partai pendukung pasangan nomor urut satu ini diprediksi akan menjadi rebutan baik oleh Anies maupun Basuki. PAN bahkan sudah menyatakan sikap untuk bergabung dengan pasangan nomor 3. Sedangkan PKB, PPP, Demokrat, belum bersikap.

ARKHELAUS W.

Baca juga: Jakarta Tergenang, Anies Baswedan: Kirain Udah Bebas Banjir

Komentar

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Terpopuler