Begini Harapan Napi Pondok Bambu Saat Ikut Nyoblos Pilkada

Rabu, 15 Februari 2017 | 12:38 WIB
Begini Harapan Napi Pondok Bambu Saat Ikut Nyoblos Pilkada
Suasana Lembaga Pemasyarakatan Wanita Pondok Bambu, Jakarta Timur yang menggelar pemungutan suara pada pemilihan kepala daerah DKI Jakarta, 15 Februari 2017. Tempo/Egi Adyatama

TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga Pemasyarakatan Wanita Pondok Bambu, Jakarta Timur ikut menggelar pemungutan suara pada pemilihan kepala daerah DKI Jakarta, pada Rabu, 15 Februari 2017. Sebanyak 144 narapidana ikut dalam pemungutan suara.

Berada di dalam tahanan ternyata tak menghambat mereka mengetahui rekam jejak para pasangan calon gubernur DKI. "Saya tau visi misi dan program mereka dari TV. Pas debat itu seru tuh," kata Yuli, salah satu napi asal Pulogebang, Jakarta Timur.

Baca : Coblosan di Lapas Pondok Bambu, Nama Jessica Tak Ada

Yuli juga mengatakan informasi terkait para paslon juga banyak ia dapatkan dari keluarga yang datang menjenguknya. Dari situ, dia mengaku sudah bisa menentukan pilihannya.

Tak hanya isu Pilkada, isu politik pun tak terhalang oleh tembok penjara. Yuli juga banyak mendengar terkait isu politik yang sedang memanas, termasuk konflik Susilo Bambang Yudhoyono dengan Antasari Azhar. "Saya heran kenapa Pak SBY ngetwit mulu," kata dia.

Yuli telah mendekam di Rutan Pondok Bambu selama 1,5 tahun terakhir. Ia masih memiliki 17 tahun untuk dijalani. Tak banyak yang diharapkan Yuli dari Gubernur mendatang. "Ya palingan atasin macet tuh. Eh, tapi masih lama juga ya (saya di sini)," kata Yuli.

Yuli beserta teman-temannya merupakan beberapa pemilih terakhir di dalam lapas itu. Mereka nampak santai dan cukup ceria. Selama menunggu panggilan pencoblosan, mereka nampak bercengkrama.

Lapas Pondok Bambu memiliki jumlah tahanan sebanyak 1.044 orang. Kepala Lapas Wanita Pondok Bambu Ika Yusanti mengatakan lapas itu mendapatkan 161 surat suara dari KPU DKI. Nantinnya, surat suara tersisa rencananya akan digunakan untuk para pemilih tambahan yang menggunakan e-KTP.

EGI ADYATAMA

Komentar

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan