Kapok Bicara Sembarangan, Ahok Pakai `Selotip Ajaib`  

Senin, 09 Januari 2017 | 17:21 WIB
Kapok Bicara Sembarangan, Ahok Pakai `Selotip Ajaib`   
Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menemui Nuril Arifin Husein atau Gus Nuril di Pondok Pesantren Sokotunggal, Pulogadung, Jakarta Timur, Senin, 9 Januari 2017. TEMPO/Larissa

TEMPO.CO, Jakarta - Calon Gubernur DKI Jakarta inkumben, Basuki Tjahaja Purnama, mengaku jera melontarkan pernyataan yang dinilai keras kepada individu atau kelompok. Pernyataan itu merujuk pada pidatonya di Kepulauan Seribu yang menyitir Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 51 pada September tahun lalu.

Atas pernyataan tersebut, Ahok menyampaikan permintaan maaf di depan pimpinan Pondok Pesantren Soko Tunggal Nuril Arifil Husein atau Gus Nuril. Ahok pun berjanji akan berusaha tidak mengulangi perbuatannya dan berubah menjadi sosok yang lebih baik.

"Ini ada hikmahnya, kapok saya (bicara sembarangan)," ucap Ahok di Gang Sodong Utara, Pulogadung, Jakarta Timur, Senin, 9 Januari 2017.

Sambil berkelakar, Ahok mengatakan telah menyiapkan perekat mulut agar tidak kembali mengeluarkan kata-kata sembarangan. Ahok menyebut perekat mulut tersebut sebagai “selotip ajaib”. "Sekarang saya sudah pakai 'selotip ajaib', kok. Belinya di Lindeteves, Glodok," ujar Ahok.

Senada dengan Ahok, Gus Nuril menuturkan ada hikmah yang dapat diambil dari kasus dugaan penodaan agama yang menjadikan Ahok sebagai terdakwa. Namun hikmah lain yang bisa diambil, kata Gus Nuril membalas kelakar Ahok, adalah banyak organisasi masyarakat (ormas) punya aktivitas baru.

"Kalau sampeyan (Ahok) enggak ngomong keras begitu, banyak ormas yang enggak punya pekerjaan. Baguslah itu," kata Gus Nuril.

Namun, karena sudah kapok, Ahok mengaku tidak akan mengulangi perbuatannya. "Waduh, kalau Gus (Gus Nuril) yang ngomong itu, oke. Tapi saya enggak berani komentari itu. Nanti saya digugat lagi ke Bareskrim," ujar Ahok.

LARISSA HUDA



 




Komentar

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Terpopuler