Denny JA: Ahok Kalah karena Faktor Prabowo dan Blunder Sembako  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) didampingi pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (tengah), Sandiaga Uno (kanan) menyampaikan keterangan pers mengenai hasil hitung cepat Pilkada DKI Jakarta putaran kedua di DPP Partai Gerindra, Jakarta, 19 April 2017. ANTARA FOTO

    Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) didampingi pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (tengah), Sandiaga Uno (kanan) menyampaikan keterangan pers mengenai hasil hitung cepat Pilkada DKI Jakarta putaran kedua di DPP Partai Gerindra, Jakarta, 19 April 2017. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Pendiri dan pemilik Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA menganalisis tiga faktor penyebab kalahnya pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Basuki Purnama-Djarot Saiful dari pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

    LSI Denny JA mengumumkan hasil hitung cepat (quick count) Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta yang diselenggarakan Rabu, 19 April 2017. Yakni pasangan  Basuki (Ahok)–Djarot mendapat  42,33 persen dan Anies–Sandiaga (57,67 persen).

    Baca juga:

    Ahok-Djarot Kalah Pilkada DKI, Ini Analisis Pakar Statistik
    Peneliti LIPI: Suara Pendukung Agus-Sylvi Berlabuh ke Anies-Sandi

    Kekalahan Ahok-Djarot di Luar Perkiraan Tim Sukses

    Sejumlah lembaga survei lain juga mencatat kemenangan pasangan Anies-Sandi.  Polmark Indonesia mencatat Basuki-Djarot meraih 42,43 persen dan Anies–Sandiaga: 57,57 persen.

    Indikator mencatat Basuki–Djarot (42,11 persen) dan Anies–Sandiaga (57,89 persen), SMRC mencatat Basuki–Djarot (41,94 persen) dan Anies–Sandiaga (58,06 persen).

    Pada Pilkada DKI Jakarta putaran pertama yang digelar 15 Februari 2017,  pasangan Agus – Sylvi  mendapatkan suara 937.950 dengan presentasi 17,02 %, pasangan Ahok- Djarot memperoleh 2.364577 dengan presentase 42,99 %, sedangkan pasangan nomor urut 3 Anies –Sandi  memperoleh 2.197.33 dengan presentase 39,95 %.

    “Dua penyebab kekalahan Ahok-Djarot yaitu blunder sembako dan faktor Prabowo Subianto,” kata Denny JA dalam konferensi pers di kantornya di Jakarta, 19April 2017.

    Menurut Denny,  pembagian sembako begitu masif  dilakukan tim sukses pasangan Ahok-Djarot. Denny menilai masyarakat tidak merespon sembako yang dibagikan itu untuk disenangi.

    “Ini  blunder elektoral yang menyalahi aturan sehingga banyak mendatangkan pemilih tapi lebih banyak juga yang tidak menyukainya,” katanya.

    Faktor kedua, sosok Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra.  Denny  menjelaskan sosok Prabowo mampu memberikan  nilai tambah bagi pasangan Anies-Sandi dalam hal kebangsaan. Selama masa kampanye,  Denny melihat sosok Prabowo begitu kuat memberikan dukungan kebangsaan terhadap pasangan Anies - Sandi.

    Denny menjelaskan faktor penyebab lainnya adalah keinginan pemilih untuk mengganti gubernur inkumben. Menurutnya, pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu merupakan penistaan agama, sehingga pemilih juga tidak ingin dipimpin Gubernur yang menjadi tersangka.

    Prabowo Subianto menilai bahwa rakyat Jakarta itu luar biasa. Ia mengaku makin percaya bahwa rakyat memiliki pendirian teguh meski hendak disogok dengan uang dan sembako.

    "Ini memberi harapan pada kami," kata Prabowo dalam pidatonya di kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra, Jakarta Selatan, Rabu, 19 April 2017.

    Prabowo mengaku diminta untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak yang telah menyumbangkan sembako kepada warga Jakarta, selama  putaran kedua Pilkada DKI 2017.

    "Jangan bosan (kasih sembako). Jangan hanya untuk pilkada dong. Bagi sembako terus," kata dia diiringi tawa para relawan pendukung pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

    Dalam satu pekan terakhir menjelang pencoblosan, tim Anies-Sandi menemukan pembagian sembako yang diduga terkait Pilkada DKI di banyak tempat. Menurut kuasa hukum tim Anies-Sandi, Yupen Hadi penyebaran sembako ini dilakukan masif di seluruh wilayah Jakarta termasuk Kepulauan Seribu.

    Berdasarkan pemantauan tim Anies-Sandi di lapangan, Yupen mengatakan ada dua pola yang digunakan. Yang pertama adalah pembagian sembako dengan kupon Rp 5000 yang ditukar dengan sembako berisi mie instan, beras, gula, dan minyak goreng. Ada juga pola tanpa kupon dibagikan langsung di setiap titik yang ada di DKI Jakarta.

    Simak juga: Panwas Sita Sembako, Jimly: Pasangan Calon Bisa Didiskualifikasi

    Menurut Yupen hasil pemantauan oleh timnya, hal ini terjadi di Jakarta Utara yakni di daerah Cilincing dan Kali Baru. Ada temuan juga di Jakarta Timur seperti Kampung Melayu, kawasan Lubang Buaya, Klender, Rawangun, dan Cimanggis. Untuk Jakarta Barat ada temuan di Cengkareng. Jakarta Selatan ada penemuan di Kebayoran Lama.

    Yupen juga mengatakan ada fasilitas negara yang diduga digunakan untuk menyimpan logistik yang didistribusikan itu. Rumah dinas negara itu menurut Yupen ada di kompleks DPR RI, Kalibata, Jakarta Selatan.

    MURDINSAH | FRISKI RIANA| UWD

    Video Terkait:
    TPS Unik Pilkada DKI Ini Penuh Hiasan Janur
    Pilkada Jakarta, Tujuh Tahanan KPK Pilih Cagub Nomor Tiga


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ikan Rahasia Dari Amerika

    CIA atau Badan Intelijen Amerika Serikat membuat sebuah robot berbentuk Ikan lele.