ACTA Syukuran, Novel Bamukmin: Alhamdulillah, Ahok Cuti Selamanya

Kamis, 20 April 2017 | 19:05 WIB
ACTA Syukuran, Novel Bamukmin: Alhamdulillah, Ahok Cuti Selamanya
Habib Novel dan jajaran Advokat Cinta Tanah Air merayakan kekalahan Ahok dengan tumpengan dan cukur rambut di Posko ACTA, Jakarta Pusat, 20 April 2017. TEMPO/Aghniadi

TEMPO.CO, Jakarta - Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) menggelar peta kecurangan pemilihan gubernur dan syukuran di posko ACTA, Jakarta Pusat, Kamis, 20 April 2017. Sekretaris Jenderal Front Pembela Islam DKI Jakarta, Novel Bamukmin, yang juga anggota ACTA, memimpin doa bersama sebelum pemotongan tumpeng dengan para advokat itu.

Dalam doanya, Novel berkata, "Teringat dulu kami memberi tumpeng ke Balai Kota. Kala itu kami minta Ahok untuk cuti, kini dia cuti selama-lamanya. Alhamdulillah, doa kami terkabul."

Baca:
Bertemu Anies, Ahok Tekankan Soal APBD Perubahan
Bahas Anggaran Bareng Anies, Ahok Akan Sampaikan kepada Partai

Pembina ACTA Habiburokhman mengatakan kekalahan Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama dalam hitung cepat dinilai sebagai vonis sosial. "Bagi-bagi sembako tidak berdampak. Siapa pun yang melakukan kriminalisasi kepada rakyat, akan ditindak." ACTA, kata Habiburokhman, tidak akan berhenti sebelum Ahok dihukum berat karena menista agama.

Ketua Dewan Penasihat ACTA, Hisar Panjaitan, mengatakan salah satu tujuan organisasi itu adalah menumbangkan Ahok dari kursi Gubernur DKI Jakarta. “Ini juga patut masuk rekor MURI, terdakwa tidak ditahan."

Baca juga:
Soal APBD Perubahan, Ahok: Jangan Ada Pokir, Kasihan Pak Anies
Ini PR Ahok yang Akan Dibereskan Sebelum Lengser

Novel berharap gubernur baru agar membangun Jakarta tanpa air mata dan tidak mengecewakan rakyat. “Kalau sampai kecewa, masyarakat bisa turun lagi ke jalan."

Ia ingin gubernur baru memberikan pernyataan tegas untuk menghentikan reklamasi. Menurut dia, reklamasi berpotensi untuk menarik warga nonpribumi untuk datang dan bekerja di Indonesia. Novel menganggap, warga luar diistimewakan dan digaji lebih tinggi dari upah minimum regional. "Kami khawatir yang ‘memegang’ Jakarta, bukan lagi pribumi, bukan lagi mayoritas yang Islam," ujar Novel.

AGHNIADI

Komentar

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan