Ahok Kunjungi Drainase Buruk di Rawa Buaya: Kacau Ini

Kamis, 09 Februari 2017 | 21:00 WIB
Ahok Kunjungi Drainase Buruk di Rawa Buaya: Kacau Ini
Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (kedua kiri) berjalan di atas pembangunan jalan inspeksi Sungai Ciliwing saat "blusukan" berkampanye ke daerah Cililitan, Jakarta, 28 Desember 2016. ANTARA FOTO

TEMPO.CO, Jakarta - Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengunjungi dua kampung kumuh yang kerap didera banjir karena rusaknya saluran air. Ahok, panggilan akrab Basuki mengawalinya di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Kemudian ke Duri Kosambi, Rawa Buaya, Jakarta Barat.

Ahok menyerap aspirasi warga Jakarta yang kerap kebanjiran sepanjang tahun. "Tadi kami cek lokasi, makanya saya sampaikan di Jakarta biasanya kalau ada kampung yang masih terendam banjir, pasti salurannya nggak benar," katanya Kamis, 9 Februari 2017.

Baca juga:



Kampanye Tanpa Pemberitahuan, Ahok Diprotes Panwascam Cakung
Ahok Tak Infokan Agenda Kampanye, Ini Kata Bawaslu DKI



Di Cakung, Ahok mendapat keluhan warga yang meminta dibuatkan pasar. Karena selama ini mereka berjualan di sepadan jalan. Di tempat itu juga sering banjir. Ahok mengatakan saat ini pihaknya sedang mendata wilayah yang kerap dilanda banjir. Setelah itu melakukan pembenahan.

Ahok kemudian melanjutkan blusukannya di kawasan Rawa Buaya. Di tempat itu Ahok mengeluhkan drainase yang buruk. Kata dia, saluran air mampet sehingga kerap menimbulkan banjir. "Kacau ini," tutur dia.

Rencananya Ahok akan memetakan lahan di sekitar kampung kumuh Jakarta. Dia menyarankan bagi warga yang belum memiliki sertifikat tanah agar segera mengurus. Karena Ahok akan membuat saluran air.

Simak juga:



Debat Pilkada, Ahok Pede Program Anak dan Wanita Sudah Jalan



"Kami makanya pelajari dulu, kalau memang itu tanah resmi, bukan lahan hijau, atau apa ya kita harus bikin, jangan-jangan itu tanah pabrik, kita nggak tahu juga."

AVIT HIDAYAT

Komentar

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Terpopuler