Pamor Ahok di Media Sosial Jeblok Setelah Serang Ma`ruf Amin

Kamis, 02 Februari 2017 | 06:19 WIB
Pamor Ahok di Media Sosial Jeblok Setelah Serang Ma`ruf Amin
Trend Sosial: Pamor Kandidat Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat melorot dalam pekan pertama Februari 2017. (Politicawave.com)

TEMPO.CO, Jakarta -Sehari setelah melontarkan pernyataan kepada Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma`ruf Amin, citra pasangan kandidat gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat di media sosial terus melorot. Berdasarkan pemantauan Tempo.co dan Politicawave skor keterpilihan kandidat, khususnya Net Sentiment, skor  Ahok-Djarot pekan lalu sekitar minus 5.000. Tapi, pada Rabu siang 1 Februari, skor Net Sentiment Ahok-Djarot minus 57.6788 pada 1 Januari 2017 dan terus turun menjadi minus 117 ribu pada 2 Januari 2017. (detail angkanya bisa dilihat di: https://pilkada.tempo.co/indeks_politik_jakarta).

Skor ini mirip dengan saat terjadinya aksi menuntut Ahok diadili pada  aksi 411 (4 November 2016) dan aksi 212 (2 Desember 2016). Sebulan setelah aksi, saat suasana mereda, skor Net Sentiment Ahok sebenarnya sempat naik ke minus 5.000. Jumlah pesan di Twitter dan Facebook yang menyebut Ahok memang tetap paling banyak. Namun, senitmen pesan itu negatif. Berkaca dalam kasus Pilkada DKI Jakarta DKI 2012 skor keterpilhan kandidat dan net sentiment, selaras dengan hasil pilkada. Artinya, bila pemilihan dilakukan saat ini Ahok bisa kalah.

Baca juga: Ahok Minta Maaf: Luhut, Kapolda dan Pangdam Temui Ketua MUI

Melorotnya skor Net Sentiment Ahok-Djarot ini  terlihat pada tagar #AhokHinaUlama yang menjadi trending topic nomor dua di media sosila Twitter di Indonesia pada Rabu 1 Januari 2017. Pada saat yang sama tagar #Ma`ruf Amin juga menjadi trending topic dengan jumlah pesan tweet 70,5 ribu pesan.

Kegaduhan yang dibikin oleh Ahok saat sidang kasus penistaan agama pada Selasa 31 Januari telah membuat netizen bereaksi. “Demi Allah, tak rela KH Ma`ruf Amin, guru/orang tua/ulama kami, pimpinan MUI yang amat kami hormati cintai direndahkan dan diancam siapa pun,” kata Abdullah Gymnastiar dalam akun twitternya @aagym.

Baca juga: Said Aqil: Meski Difitnah dan Dicaci, NU Membela NKRI

Yang juga marah adalah mantan Ketua Mahkamah Konstitutusi Mahfud MD. “Saya bukan tokoh NU tapi saya warga jam’iyyah NU sejak bayi. Saya tersinggung atas hardikan Ahok terhadap KH Ma`ruf Main. Saya ikut protes sebagai warga NU,” kata Mahfud dalam akun Twitternya. Mahfud MD sebenarnya bukan pendukung Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI. Dia pernah menyatakan sebaiknya MUI menyatakan bahwa fatwanya tidak pernah dikawal siapa pun. Namun, soal ucapan Ahok di sidang, membuatnya tersinggung.

Sebelum muncul ucapan Ahok dan pengacaranya yang ingin menggugat KH Ma`ruf Amin, popularitas Ahok dalam pilkada DKI Jakarta sudah membaik. Dalam survei yang dilakukan oleh SMRC, di 14 Januari elektabilitas Ahok-Djarot naik 6 persen, Anies Baswedan-Sandiaga Uno naik 2 persen dan Agus Yudhoyono-Sylviana Murni turun 8,3 persen. Dengan pergerakan itu, elektabilitas Ahok-Djarot mencapai 34,8 persen, Anies-Sandi 26,4 persen, dan Agus-Sylvi 22,5 persen. Sebagai pembanding survei Pollmark yang dilakukan pada 5 Januari menempatkan Agus-Sylvi 29,9 persen, Ahok-Djarot 28,9 persen, Anies-Sandi, 31,7 persen.

Namun, respon Ahok terhadap Ketua MUI Ma`ruf Amin yang juga Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di media sosial diperkirakan bakal kembali mengubah peta dukungan. Massa tradisional NU marah. Citranya melorot lagi.

POLITICAWAVE | BS

Komentar

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan