Elektabilitas Ahok Anjlok Pasca Demo 4 November

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab berada diatas mobil komando saat melakukan long march dikawasan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, 4 November 2016. Dalam aksi yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) mereka menuntut dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab berada diatas mobil komando saat melakukan long march dikawasan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, 4 November 2016. Dalam aksi yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) mereka menuntut dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Elektabilitas petahana Basuki Tjahaja Purnama semakin merosot paska demo 4 November. Lingkaran Survei Indonesia merilis temuan terbaru jajak pendapat terhadap 440 responden selama lima hari sejak 31 Oktober hingga 5 November lalu.

    Hasilnya, elektabilitas Ahok dan Djarot Saiful Hidayat hanya 24,6 persen. Turun dibandingkan survei Oktober 31,4 persen dan survei Juli 49,1 persen. "Salah satu faktornya tentu kasus dugaan penistaan agama," kata peneliti LSI Adjie Alfaraby, Kamis, 10 November 2016.

    Namun demikian, elektabilitas pasangan Ahok-Djarot masih unggul dibandingkan dua pasangan lain. Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni berada di urutan kedua dengan elektabilitas 20,9 persen. Sementara pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno di angka 20 persen. Sedangkan responden yang tidak menentukan pilihan adalah 34,5 persen.

    Uniknya, kata Adjie, paska demo 4 November, mereka yang memilih Ahok justru kini beralih menjadi swing voters alias belum menentukan pilihan. Pada survei Oktober, jumlah swing voters adalah 28,2 persen.

    Sementara elektabilitas Agus-Sylviana dan Anies-Sandiaga masih stagnan. "Ini menunjukkan pemilih di Jakarta, terutama yang memilih Ahok itu rasional. Mereka tidak mau terpengaruh isu penistaan agama hingga setidaknya ada kepastian hukum dari polisi," kata Adjie.

    Dari 440 responden, 65,7 persen mengatakan pernyataan Ahok tentang Al-Maidah ayat 51 adalah penistaan agama. Sebanyak 13,5 persen menyatakan bukan penistaan agama, sementara sisanya menjawab tidak tahu. Dari responden yang sama, 63,7 persen meminta Ahok diproses hukum.

    Demo besar-besaran pada 4 November lalu menyedot perhatian se-Tanah Air. Para pendemo yang berasal dari berbagai organisasi Islam menuntut polisi memproses hingga tuntas kasus penistaan agama terhadap Ahok yang kini ditangani Bareskrim Mabes Polri.

    Untuk kategori lain, kata Adjie, Ahok masih unggul di kalangan pemilih laki-laki sementara Agus di kalangan pemilih perempuan. Agus dan Anies unggul di kalangan pemilih muslim dan Ahok menang di kalangan pemilih non muslim.

    Jajak pendapat ini digelar LSI selama enam hari sejak 31 Oktober hingga 5 November dengan cara wawancara tatap muka. Di saat itu, isu penistaan agama sedang ramai-ramainya dibicarakan hingga puncaknya pada 4 November lalu ketika demo besar-besaran sejumlah kelompok umat muslim turun ke jalan mendesak Ahok segera diadili.

    INDRI MAULIDAR


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ikan Rahasia Dari Amerika

    CIA atau Badan Intelijen Amerika Serikat membuat sebuah robot berbentuk Ikan lele.