Dana Cekak, Calon Bupati Ini Andalkan Dukun Menang Pilkada  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Arif Fadillah

    TEMPO/Arif Fadillah

    TEMPO.CO, Karawang - Dana terbatas tidak menjadi kendala bagi Nace Permana, calon bupati Karawang dari jalur independen pada pemilihan umum kepala daerah (pilkada) 2015. Ia mengaku memiliki cara untuk mengantisipasi kendala biaya politik yang mahal, yakni memanfaatkan keahlian unik para dukun. 

    "Untuk menghadapi lawan politik yang memiliki modal besar harus dengan cara lain. Saya akui, tidak bisa melawan dengan duit. Karena itu saya memanfaatkan dukun," ungkap Nace, kepada Tempo di gedung DPRD Karawang, Rabu, 4 November 2015. 

    Bukan hanya memanfaatkan aspek irasional para dukun, Nace juga mengatakan ia memanfaatkan aspek rasional dari "orang-orang pintar". "Saya memanfaatkan patsun ketokohan mereka. Dukun kan punya jamaah, kita manfaatkan supaya jamaahnya ikut ke saya. Itu aspek rasionalnya," kata Nace. 

    Nace mengatakan modal politiknya saat ini adalah dukungan fanatik dua ribu anggota Lembaga Swadaya Masyarakat Lodaya. Saat ini, Nace juga menjabat sebagai pupuhu (ketua) LSM yang bergerak di bidang kebudayaan dan lingkungan di Kabupaten Karawang itu. 

    "Saya akui tidak bisa melawan kekuatan duit lima calon lain. Karena itu saya menggunakan keahlian unik anggota LSM Lodaya," ujarnya. 

    Dari 2 ribu anggota LSM Lodaya, ada seorang anggota Lodaya yang menjadi andalan Nace Permana, yakni ketua supranatural Karawang. Namun, Nace enggan menyebut nama orang itu. Lewat orang itu, Nace mendapat informasi bahwa semua calon bupati Karawang meminta penasihat spiritual.

    Berita Terbaru: Pilkada Serentak 2015

    "Bohong kalau tidak ada yang maen dukun. Pilkada itu adu dukun. Jangankan pilkada, pemilihan kepala desa di Karawang pun pada maen klenik," tandas Nace.

    Nace bercerita, pada Jumat, 27 September 2015, rumah Yenih, wakil Nace di pilkada Karawang, sempat mendapat teror politik lewat cara-cara mistik. Dari rekaman kamera pengawas keamanan atau CCTV, pria misterius itu memasuki semua kamar di rumah Yenih.

    Dari temuan Nace, pria misterius itu menyimpan tanah kuburan yang dibungkus kain kafan. Benda mistik itu disimpan di dalam peci milik suami Yenih. "Ada cabup yang kirim benda mistik kepada wakil saya (Yenih). Kalau dilihat dari barangnya, itu adalah santet. Saya tahu dalangnya, dia lawan politik saya. tapi saya tidak mau sebut namanya," ungkap Nace. 

    Tidak seperti calon lain, di pilkada Karawang, Nace memang tidak disokong partai politik atau pemodal besar. Sejauh ini, Nace mengaku tidak pernah mengeluarkan uang sedikit pun. "Karena saya hanya mengandalkan partisipasi masyarakat. Masyarakat inisiatif mengeluarkan uang sendiri," ujar Nace.

    Dana kampanye Nace masih nihil. Karena itu Nace mengakui belum melaporkan dana kampanye ke Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Karawang. Padahal menurutnya setiap bulan, calon bupati mendapat surat imbauan dari KPU untuk melaporkan dana kampanye.

    "Kalau saya kunjungan ke daerah, saya tidak pernah keluar uang. Di sana ujug-ujug disambut pendukung memakai kaos bergambar Nace. Ada logistik juga, rupanya biaya cetak dari patungan pendukung saya sendiri. Dana itu tidak terukur. Jadi apa yang harus saya laporkan?" tandas Nace. 

    Dari keterangan Miftah Farid, komisioner KPU bidang teknis, rekening dana kampanye milik Nace Perbana paling kecil dibanding lima calon bupati lainnya. "Baru satu juta rupiah," kata Miftah, kepada Tempo, Rabu, 4 November 2015.

    Di pilkada Karawang, tim kampanye Nace Permana-Yenih berjumlah seratus orang. Dengan tim itu, Nace sudah berkeliling ke 309 desa. Ia mengaku menargetkan memperoleh 400 ribu suara. 

    "Walaupun belum pernah memberikan apa-apa kepada tim kampanye, perolehan suara saya sampai saat ini sudah 372 ribu suara," pungkasnya. 

    HISYAM LUTHFIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ODP dan Isolasi Mandiri untuk Pemudik saat Wabah Virus Corona

    Tak ada larangan resmi untuk mudik saat wabah virus corona, namun pemudik akan berstatus Orang Dalam Pemantauan dan wajib melakukan isolasi mandiri.