Keluarga Korban Sinar Bangun Terancam Tak Bisa Gunakan Hak Pilih

Reporter:
Editor:

Purwanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pilkada. Dok. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Ilustrasi pilkada. Dok. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Medan -Keluarga korban tenggelamnya KM Sinar Bangun yang masih menanti di wilayah tepian Danau Toba terancam tak bisa menggunakan hak pilih dalam pemilihan gubernur-wakil gubernur pada 27 Juni nanti. Badan Pengawas Pemilu tak mengabulkan permohonan KPU Simalungun yang ingin memasukkan mereka ke tempat pemungutan suara (TPS).

    "Tadi sudah komunikasi dengan KPU Provinsi. Mereka berkoordinasi dengan Bawaslu, Gubernur dan Kapolda, tapi tidak diizinkan. Jadi mereka tidak bisa memilih," ujar  Ketua KPU Simalungun, Adelbert Damanik, pada Senin malam, 25 Juni 2018.

    Sejak kemarin siang, petugas panitia pemungutan suara telah mendata keluarga korban yang lokasi pemilihannya berada di luar Kabupaten Simalungun. Petugas tak menyebutkan jumlahnya, tapi keluarga korban yang hendak menggunakan hak pilih di sana harus membawa e-KTP atau surat keterangan dari dinas kependudukan dan catatan sipil agar bisa menggunakan hak pilih di TPS, lokasi keberadaan mereka.

    Keputusan tersebut membuat keluarga korban dipastikan tak bisa memilih calon gubernur dan kepala daerahnya. Tidak hanya keluarga korban, petugas Basarnas dan awak media yang sedang bertugas di sana pun tak akan dapat memilih.

    Bawaslu Sumatera Utara saat dikonfirmasi membenarkan perihal tidak dapat memilihnya para keluarga korban KM Sinar Bangun. Alasannya, KPU Simalungun baru menyampaikan permohonan pada kemarin siang. "Harusnya KPU Simalungun memberitahu pindah lokasi pemilihan itu tiga hari sebelum pencoblosan,” kata Ketua Bawaslu Sumatera Utara, Syafrida R. Rasahan.

    Syafrida menjelaskan keputusan tersebut diambil berdasarkan peraturan KPU.  KPU Simalungun, kata dia, seharusnya sudah bisa memprediksi akan ada keluarga korban yang punya hak pilih menunggu di sekitar lokasi kejadian. Karena tragedi KM Sinar Bangun telah berlangsung lebih dari sepekan yang lalu.

    Ihwal itu, Syafrida mengimbau keluarga korban untuk kembali ke alamat domisili asalnya untuk memilih. “Kembali ke TPS masing-masing, itu solusi dari kami,” kata Safrida.

    IIL ASKAR MONDZA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.