Ida Fauziah: Jawa Tengah Darurat Kekerasan terhadap Perempuan

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasangan calon gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo-Taj Yasin (nomor urut satu) dan Sudirman Said-Ida Fauziah (nomor urut dua) di Semarang, Jawa Tengah, 13 Februari 2018. ANTARA/R. Rekotomo

    Pasangan calon gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo-Taj Yasin (nomor urut satu) dan Sudirman Said-Ida Fauziah (nomor urut dua) di Semarang, Jawa Tengah, 13 Februari 2018. ANTARA/R. Rekotomo

    TEMPO.CO, Sukoharjo - Calon wakil gubernur Jawa Tengah Ida Fauziah mendapat kesempatan pertama mengambil amplop pertanyaan dalam debat kedua Pilgub Jawa Tengah 2018. Debat tersebut digelar di Best Western Hotel Sukoharjo, Kamis 3 Mai 2018.

    Dalam debat tersebut, masing-masing pasangan mendapatkan waktu untuk menyampaikan program-program yang telah disiapkan. Usai penyampaian program, mereka mulai masuk pada sesi menjawab pertanyaan dari para panelis.

    Baca: Persiapan Debat, Ganjar Pranowo Makan Soto dan Bernyanyi Dangdut

    Pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah memperoleh kesempatan pertama. Mereka juga mendapat waktu untuk menjawab pertanyaan itu.

    Pertanyaan dari panelis itu terkait program para pasangan calon untuk mengurangi angka kekerasan terhadap perempuan. Sudirman Said langsung mempersilakan pasangannya, Ida untuk menjawab pertanyaan tersebut.

    Baca: Megawati Minta Kader PDIP Bekerja Sampai Pingsan

    “Jawa Tengah sudah darurat kekerasan terhadap perempuan,” kata Ida. Dia berjanji akan bekerja dan mengajak para aktivis dan organisasi perempuan untuk bisa terus mengurangi angka kekerasan terhadap perempuan.

    Sedangkan pasangan Ganjar Pranowo mendapat pertanyaan seputar penggunaan narkotika dan penyebaran HIV. “Selama ini kami telah bekerjasama dengan dunia pendidikan dan para ulama untuk menghadapi persoalan itu,” kata Ganjar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.