Rabu, 24 Oktober 2018

Pilgub Sumut, Edy Rahmayadi: Nomor Satu Artinya Juara

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bakal calon gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi (kanan) bersama bakal calon wakil gubernur Musa Rajeckshah (kiri) naik becak saat akan mendaftar ke KPU Sumut, di Medan, Sumatera Utara, 8 Januari 2018. ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi

    Bakal calon gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi (kanan) bersama bakal calon wakil gubernur Musa Rajeckshah (kiri) naik becak saat akan mendaftar ke KPU Sumut, di Medan, Sumatera Utara, 8 Januari 2018. ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi

    TEMPO.CO, Medan - Pasangan Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah (Eramas) mendapat nomor urut satu dalam Pilkada Sumatera Utara 2018. Penetapan nomor urut dilakukan melalui rapat pleno terbuka pengundian nomor urut di Hotel Grand Mercure, Medan, pada Selasa, 13 Februari 2018.

    Mendapatkan nomor urut satu, Edy mengaku semakin yakin bisa memenangkan pilkada mendatang. "Nomor satu itu kan juara. Artinya Eramas juara", ujar Edy setelah pelaksanaan penetapan nomor urut.

    Baca: Pilgub Sumut, Warga Sambut Deklarasi Edy Rahmayadi-Musa Rajeksyah

    Edy mengatakan timnya berkomitmen melaksanakan segala aturan dan ketentuan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ia juga berpesan agar masyarakat Sumatera Utara agar datang ke tempat pemungutan suara (TPS) saat pemilihan.

    Edy dan pasangannya Musa tiba di tempat pengundian nomor urut lebih awal dibandingkan pasangan pesaingnya Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus. Edy dan Musa kompak memakai kemeja putih dipadukan dengan celana hitam dan peci hitam.

    Baca: PKS Bentuk Tim Pemenangan, Edy Rahmayadi: Kadernya Militan

    Setelah pengundian, Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah meninggalkan lokasi lebih dulu. Keduanya naik ke atas kepala reog yang sudah menunggu. Setelah itu, mereka diantarkan menuju becak motor dan diarak sampai posko pemenangan Eramas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.